AMATIRfilms

we can enjoy. freedom. and take you moment into amateur film's
Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

komodo pulau seribu zaman

Cerita yang tak panjang, awal kisah yang menarik perhatian setiap insan apabila mendengarkan beberapa bingkisan kalimat yang terhatur dari kata-kata yang baik.
cerita ini bermula dari aku yang tengah kesasar dengan perahuku ketika aku tengah berlayar di lautan, untung aku diselamatkan oleh seorang kakek nelayan dan mengizinkan aku tinggal di pondok indah milik-nya.


Komodo kini tak hanya sekedar unik, tapi juga terkenal akan keindahannya, yaitu dimana disana terdapat laut merah yang membuahkan pasir dan air yang berdesir dan saling bersahut-sahutan.  pasir-Nya yang dapat menyilaukan mata dari hati. Pada kisahnya komodo memberikan ketertarikan akan zaman pra sejarah, dan zaman dimana Dinasaurus dan Hewan lain-Nya ada. Komodo kemudian menjadikan pulau huniannya yaitu COMODO ISLAND yang sering mencuakkan beberapa  kisah  yang mencengangkan akan habitat asli yang masih asri. Aku tak percaya melihat ini”,  sahutku ketika berpijak di tengah lapangan hamparan pegunungan yang agak panas, aku menapaki rerumputan yang terkadang jenuh padaku dan sering memaksaku untuk memakai sandalku, rerumputan itu menyakitiku akan daun-daunnya yang runcing dan tajam.
Meski hujan turun semalam, ini tak akan mampu menjatuhkanku pada dingin dan panas-Nya hari di COMODO ISLAND. Sejenak sebuah kata terlintas di otak-ku mana komodo-komodo yang dibanggakan ini, sejenak aku menangis dengan nada setengah biasa, aku heran, serentak aku terjatuh ketika melihat kobaran mayat komodo yang diam membisu. Aku kaget dan mulai menaikkan kepalaku”kaliannn!!!”, deengan nada marah yang mendalami kekesalan, aku melihat beberapa pemburu yang ingin mengambil sesuatu dari para komodo ini, aku teriakk”, awas saja kalian mengambil Emas ini dari pulai ini”, sahutku dengan geram dan penuh dengan amarah yang merusak hatiku.

Aku kemudian bangkit dan mengejar para pemburu itu, sejenak mereka kabur terbirit-birit dan tergelontang gelantung di tengah lautan lepas. Aku berharap komodo akan memakan mereka.  Satu persatu mereka hilang dari permukaan laut, aku tersenyum kecil kepada pembunuh yang rela merampas emas purba ini dari habitat-nya.

Ke esokan paginya aku terbangun di pondok milik salah satu warga daerah asal yang sering berpacu dengan komodo, mereka khalayak kerabat dekat dan saudara, mereka tiada beda, mereka bahkan menyamakan derajat sikomodo seperti anak mereka sendiri, aku kagum melihat hal itu, “ ditengah pemburu yang banyak memanfaatkan komodo, adapula yang melesatarikan-nya”, aku tertarik pada pulau ini. Aku berdiri di pagar pondok yang menghadap kelaut, dan berlantaikan kayu, yang beralaskan beberapa ambal yang besih tanpa kuman.

 Aku bersama baju putihku yang melayang-layang dibelakangku mulai terhembus angin laut yang tatkala itu sangat sejuk, rasa-rasanya aku ingin mandi disini sambil menyelam, aku  memulai niatku dengan mengambil baju renangku dan memakai tabung Oksigen untuk pernafasanku di dalam air. Sebelum berenang aku teringat akan ucapan seorang kakek, jangan pernah menginjak terumbu karang atau apapun yang indah di dalam laut,  akupun beranjak masuk tanpa menggores sedikitpun dari terumbu-terumbu karang itu, aku baru mengetahu makna kata itu. Kata itu berarti bahwa keindahan laut memang seindah bunga hati yang menghiasi Cahaya cinta dalam keagungan dari yang maha kuasa.
Aku terus melihat pemandangan bawah laut yang katanya bak surga dunia dalam habitat Indonesia yang penuh dengan beragam jenis tanaman dan tumbuhan yang selalu berdiri tegak akan keyakinan-nya.


 ***bergeming di antara kisah yang bersambung**

Facebook Twitter RSS